Hari itu masa perkuliahan sudah selesai, dan saya pun sudah tergeletak di tempat dimana biasa tempat berkumpul bagi keluarga saya. Di depan televisi, sambil melihat tayangan televisi juga memanjakan diri bersama seorang perempuan spesial. Dimana perempuan itu membawa saya hadir dalam dunia ini, membimbing dan memberi petunjuk hidup berdasarkan pengalaman beliau yang telah lebih dahulu merasakan pahit-manisnya hidup. Ya, beliau adalah ibu saya. Seorang perempuan yang pada saat itu memberikan lengannya untuk saya jadikan bantal, sembari diusapnya kepala saya. Sungguh momen yang ingin saya rasakan setiap harinya. Memang sudah menjadi hal yang biasa sejak kecil, berada di pelukan Ibu saya. Bahkan sering meminta Ibu untuk menyuapi saya ketika makan, meskipun sudah SMP ataupun SMA. Momen tersebut kurang lebih terjadi 2 semester lalu, atau setahun yang lalu. Bertepatan dengan libur kuliah semester ini.

Untuk mengisi liburan, kami sekeluarga pergi ke Telaga Sarangan. Sabtu siang, saya, Bapak, adik, dan nenek berangkat ke tempat kerja Ibu saya untuk menjemput beliau. Bepergian seperti ini merupakan hal yang baru bagi kami, karena tidak biasanya kami bersama nenek. Dan itulah yang Ibu saya katakan, “liburan pertama kalinya mengikutsertakan nenek, biar seneng”.

Ditengah perjalanan terlebih dahulu mampir ke apotik yang agak searah dengan tempat Ibu bekerja untuk mengambil obat yang telah ibu saya pesan sebelumnya, jadi tinggal ambil saja.

Singkat cerita, sudah mencapai daerah Magetan dan berhenti di masjid untuk sholat maghrib. Tepatnya di Masjid al falah yang terletak di dekat sekolah TNI, tidak salah jika didominasi warna hijau tua layaknya warna TNI. Alhamdulillah, saya dan bapak masih sempat mencicipi berjamaah, meskipun hanya di takhyat akhir. Seusai sholat saya dan bapak beranjak keluar masjid. Bapak terlihat sedang menghubungi relasinya yang ada di Magetan, karena memang ke Magetan ini juga atas bantuan beliau, terutama dalam mendapatkan penginapan di dekat Telaga Sarangan. Sementara itu saya melihat-lihat kendaraan yang keluar masjid. Saat itu saya melihat ada mobil sejenis Isuzu Phanter lawas berwarna gelap, entah itu biru gelap atau hijau, mungkin hitam, tidak jelas. Mobil itu terlihat berisi rombongan seperti dari pondok pesantren atau sejenisnya, karena salah satu penumpang yang baru masuk memakai sarung, baju koko beserta kopyah. Selain itu ada juga Toyota Avanza hijau muda sedang berjalan mundur, saya melihat lampu berwarna putih di belakang yang seolah menerangi belakang mobil, tak lama kemudian mobil tersebut meninggalkan masjid.

Terdengar suara histeris dari seorang wanita pengunjung masjid, ternyata Ibu saya yang shock, kebingungan karena tas yang dibawanya telah hilang. Saya dan bapak pun langsung mengecek isi mobil, mungkin saja tertinggal di dalam. Namun sayang, tidak ada hasil. Setelah di ingat-ingat ternyata semua barang ibu saya ada di tas itu, termasuk obat-obatan beliau yang baru tadi siang diambil dan belum di konsumsi sama sekali.

Liburan pun terasa sedikit kaku, masih terasa ketegangan atas kejadian tersebut. Namun, alhamdulillah masih ada senyum di wajah ibu saya. Ada satu hal penting yang bisa diambil sebagai pelajaran, jangan menaruh barang berharga sembarangan. Setidaknya seperti apa yang ibu saya katakan, letakkanlah didepan kita.
Setelah kembali ke rumah dan kembali ke aktifitas sehari-hari saya pun teringat akan kata ibu saya untuk memanfaatkan masa liburan saya, dan itulah yang terjadi. Liburan saya pun bermanfaat, dengan mengantar jemput ibu saya, karena KTP dan SIM ibu saya yang hilang. Ibu saya hanya tertawa ketika saya menyindir perkataan ibu saya yang menjadi kenyataan, dan beliau berkata “bukan memanfaatkan seperti ini yang ibu maksudkan” sambil tertawa.

Tak terasa sudah memasuki bulan ramadhan, sama seperti sekarang. Seperti biasa, ibu saya membangunkan untuk makan sahur bersama. Insya Allah, kalau tidak salah, Ramadhan kemarin (atau kemarinnya lagi) saya pernah disuapi ibu karena tidak tahan dengan kantuk yang sangat terasa. Ya, seperti yang saya katakan di awal, hal itu sudah biasa. Hehehe

Menjelang maghrib, ibu saya pulang dari bekerja dan biasanya membawakan gorengan yang beliau beli untuk buka puasa. Ada gorangan tempe tipis yang dibalut tepung. Sederhana, namun gurihnya lah yang membuat saya suka. Itulah mengapa selalu ada gorengan tempe kesukaan saya setiap ibu saya beli gorengan.

Malam itu menjelang Idul Fitri, dan seperti tahun-tahun sebelumnya, ibu saya sibuk di dapur untuk mempersiapkan hidangan esok hari, halal bi halal keluarga besar yang rutin diselenggarakan di rumah kami, dalem kalitan (rumah masa kecil) keluarga besar kami, karena memang rumah yang kami tempati adalah rumah peninggalan dari kakek-nenek dari keluarga ibu saya. Ibu saya tidak sendiri, ada adik saya yang membantu, juga saudara.
Hari yang ditunggu pun tiba, 1 Syawal 1433 H. Kami sekeluarga bersiap berangkat menuju masjid dengan “mobil bagus” kami, setidaknya itulah yang ibu saya katakan. Dengan mobil ini, keinginan ibu saya untuk mempunyai “mobil bagus” seperti yang orang-orang punya, terwujud dengan datangnya mobil ini di bulan Februari, bulan dimana ibu saya lahir.

Seusai sholat Ied, kami dan keluarga besar bergerak menuju makam sesepuh kami. Ibu saya dan lainnya berjalan, karena memang jaraknya lumayan dekat. Sementara saya, berusaha menjadi sopir taksi yang baik dan benar, dengan membawanya ke tempat yang lebih dekat ke makam. Hehehe

Acara halal bi halal dimulai, gema tahlil berkumandang. Dan puncaknya adalah ketika sungkeman dilaksanakan. Yang muda berbondong-bondong meminta maaf kepada yang lebih tua. Dan saya, berada di barisan paling ujung, karena memang ibu saya merupakan 2 terakhir dari 9 bersaudara. Ketika sungkeman mencapai ibu saya, seperti biasanya, salaman dan mencium tangan ibu saya. Dilanjutkan ibu mencium pipi kanan dan kiri yang diakhiri dengan ciuman di kening. Cium tangan, pipi kanan dan kiri, lalu kening merupakan hal yang sudah biasa saya lakukan dengan bapak dan ibu saya sejak saya masih kecil. Dan insya Allah sampai kapanpun akan tetap seperti itu. Namun sungkeman kali ini berbeda, soelah saya ingin menambahnya dengan mencium kaki ibu saya. Sedikit konflik batin, antara mencium kaki ibu saya sekarang juga, atau menunda lebaran tahun depan saja. Akhirnya setelah singkat berpikir, alhamdulillah saya sempat menunduk dan mencium kaki ibu saya. Alhamdulillah.

Setelah libur panjang, waktunya untuk masuk kuliah. Berjalan beberapa minggu, teman saya sering sekali menyanyikan lagu jadul yang digunakan untuk mengejek teman saya yaang kebetulan memiliki anama seperti yang ada di lagu, “Maria, akhirnya tuhan pun memanggilmu”. Entah saya harus ikut tertawa atau marah, sebab dalam hati saya berkata “Ibu saja juga mengandung unsur nama Maria” secara pengucapan memang mirip, Siti Jumariyah. Sementara itu saya juga baru menyadari jika saya sendiri juga sering menyanyikan lagu nasional yang berjudul gugur bunga. Memang entah kenapa tiba-tiba saja lagu tersebut muncul dikepala, dan akhirnya pun menyanyikannya.

Hari Kamis adalah hari perkuliahan terakhir saya di semester 3. Dan pada saat itu membahas tentang “ingin dipanggil apa ketika menjadi orang tua kelak”, otomatis membahas juga tentang orang tua. Anehnya lagi saya samasekali tidak merasakan apa-apa. Biasa saja. Malah saya mengejek teman dibelakang saya yang mungkin homesick atau kangen rumah.

Sebenarnya kuliah hari itu berakhir sampai jam 12:10, sehingga bisa langsung pulang kampung. Namun karena panas matahari begitu menyengat, saya memutuskan untuk pulang kampung esok hari. Mungkin benar hubungan antara Ibu dengan anaknya begitu dekat, pas iqomah isya’ ibu saya menelpon. Sayangnya karena saya buru-buru berangkat ke mushola, tak terjawab panggilan tersebut. Seusai dari mushola, saya kirim pesan singkat ke Ibu saya,
“Ada apa bu? Maaf bu tadi sholat”
Tak seperti biasanya yang juga balas dengan SMS, kali ini ibu saya menelepon saya lagi. Memberi informasi kalau dirumah ada makanan. Saya lupa detail pembicaraan, tapi yang saya ingat, Ibu telepon sangat singkat. Kurang lebih sekitar 48 detik. Ya sudahlah, mungkin sedang sibuk pengajian rutin kamis malam di mushola dekat rumah.

Sebelumnya, tepatnya 8 September 2012, pernah tanya seperti itu dan Ibu saya menjawab,
“Ada kamu dihatiku…”
Ya begitulah ibu saya. Jiwa mudanya masih tetap ada. Hehehe

Dan guyonan yang sering saya bicarakan dengan Ibu saya saat itu adalah menolak pernyataan Ibu saya yang selalu bilang “Ibu sudah tua”. Saya menolak pernyataan tersebut dan mengatakan pada Ibu saya “Ibu loh belum tua, tidak boleh tua. Ibu kan belum punya cucu”.

Sering juga saya menggoda Ibu saya dengan seolah-olah ingin cepat menikah. Ucapan Ibu saya yang masih saya ingat adalah,
“Sekolah dulu yang pintar, biar cepat lulus terus kerja. Nikah, bangun rumah, pakai uang sendiri. Biar kalo sudah tua, punya cucu, kerjaan Ibu cuma momong cucu (merawat cucu) dan umrah bolak-balik”
Insya Allah, Bu.

Jum’at pagi, saatnya bersiap-siap unuk pulang kampung. Tapi ternyata baru bisa berangkat agak siang, kurang lebih jam 7an. Biasalah, jamnya karet. Ditengah perjalanan, ada rombongan mobil duka dari arah Surabaya menuju Malang, kemudian ada motor bebek yang cukup misterius mendahului saya. Karena penasaran saya pun mencoba mengejarnya. Tapi sayangnya itu motor belok, dan beberapa saat kemudian ban belakang saya kempis. Bagus.

Sesampainya dirumah, ternyata ada masakan Ibu. Langsung saja ambil piring. Biar yang dimasak biasa saja, tapi jadi luar biasa. Namanya juga masakan Ibu.
Sambil makan, saya berkata dalam hati, “Bu, saya makan masakan Ibu loh”. Dengan bangga saya mengatakan hal tersebut, meskipun dalam hati. Seolah ingin menunjukkan pada Ibu saya bahwa saya hari itu sarapan masakan yang dimasaknya. Seperti yang terjadi pada saat awal menjadi mahasiswa;
Sepulang dari tempat perantauan, seperti yang sebelumnya, saya makan. Tiba-tiba Ibu saya SMS, menanyakan sarapan apa. Langsung saja saya balas makan oseng-oseng. Sepulang Ibu saya dari kerja dan tahu saya dirumah, beliau terkejut dan mengungkapkan keheranannya tentang sarapan yang saya makan tadi, pantas saja kok sama dengan yang Ibu saya masak dirumah. Hal tersebut saya lakukan karena memang saya suka memberi surprise sama ibu,
seperti saat pengumuman hasil seleksi masuk perguruan tinggi ibu saya belum tahu jika saya diterima di Universitas Brawijaya, Malang. Saya terlebih dahulu memberitahu kakak sepupu yang juga kuliah disana. Namun karena Ibu saya terus memaksa ingin tahu dan heran karena saya sering tersenyum sendiri, akhirnya saya beritahu yang sebenarnya.
Begitu juga saat tes untuk mendapatkan SIM A, Ibu saya terus bertanya kapan SIMnya jadi, karena sedang kehabisan bahan untuk menerbitkan SIM saya bilang saya kalau SIMnya keluar tahun 2013. Meskipun sebenarnya SIM udah dalam genggaman, yang saya beritahukan ke Ibu saya tadi adalah SIM C saya yang jatuh tempo pada 2013. Ya, karena alasan surprise.

Melihat ada sesuatu yang baru didepan rumah saya ada meja, disebelah barat pos kamling. Langsung saja berkata dalam hati, “ntar tanya-tanya Ibu ah, itu apaan didepan rumah”.

Sore hari saya terbangun dari tidur, ngos-ngosan karena mimpi buruk. Dalam mimpi dengan jelas saya masih ingat, mengirim SMS pada kakak sepupu saya, yang kemudian ada orang disebelah saya berkata, “loh orang yang kamu SMS sudah meninggal, masak kamu nggak tahu?”

Dengan pikiran yang masih bingung, entah itu akibat tidur sampai sore atau karena mimpi tadi, saya berusaha menyegarkannya dengan mandi, kemudian sholat ashar. Tapi masih saja terasa.

Mondar-mandir ke pintu depan, duduk di kursi ruang tamu, ke kamar, ke pintu depan lagi, kemudian melihat depan pintu ternyata kotor sekali akibat debu yang terbawa angin. Namun saya tidak membersihkannya, dalam hati berkata “ah, nanti saja nunggu Ibu pulang. Kalau Ibu tahu rumahnya kotor seperti ini pasti kan nanti disuruh bersihin”. Ya seperti yang biasanya, saya sering menggoda ibu saya seperti itu. Cari perhatian gitu deh. Hehehe

Adzan maghrib berkumandang, bergegas menuju mushola. Namun ada yang aneh. Saya melihat dari dalam mushola ada seorang pria yang terlihat panik, bahkan sekilas seperti marah-marah. Kemudian muncul kakak sepupu laki-laki saya yang ternyata mengenal pria tersebut, kemudian kakak sepupu saya balik lagi masuk dalam rumah. Kemudian datang lagi kakak sepupu yang lain, perempuan. Sesaat kemudian beliau syok, menangis, seperti tak percaya sesuatu hal telah terjadi.

Iqomah maghrib, saya mencoba keluar bertanya pada pak dhe, namun beliau menyuruh saya untuk masuk dan sholat saja. Sesaat kemudian terdengar suara kakak sepupu perempuan tadi histeris dan berkata,

“Ya Allah, Lek Jum. Lek Jum, lek. Kecelakaan. Ya Allah.”

Saya mencoba tetap tenang dan konsentrasi pada sholat yang sedang saya kerjakan. Seusai sholat saya berdoa agar ibu saya diberi keselamatan, panjang umur dan sehat wal afiat.

Keluar dari mushola, diiringi pak dhe yang tadi menyuruh saya sholat, kemudian beliau berkata,

“Sing sabar yo, nak, yo.” (Yang sabar ya, nak)

Seketika merasa kaget, sedih, bingung. Namun melihat kejadian sebelumnya, saya pun sadar tentang apa yang telah terjadi sedari tadi.

Innalillahi wa inna ilaihi roji’un..

Allah telah berkehendak lain atas doa saya tadi. Ibu saya kecelakaan dalam perjalanan ke rumah, tepatnya disebelah pabrik kertas didekat pintu gerbang utara. Saya pun bergegas masuk kedalam rumah dan mengambil ponsel, kemudian kembali lagi keluar. Menghubungi Bapak saya yang ternyata masih di Masjid Jati, Sidoarjo. Saya bilang ke Bapak saya jika Ibu saya kecelakaan, tapi sudah tidak apa-apa, Bapak langsung pulang saja. Seperti itulah informasi yang harus saya sampaikan, sesuai dengan permintaan saudara-saudara dirumah.

Setibanya Bapak saya dirumah, syok melihat banyak orang dirumah. Kemudian bertanya-tanya dimana Ibu berada.

Adzan isya terdengar, alhamdulillah Bapak saya sedikit tenang, saya bergerak menuju mushola untuk sholat isya’. Yang ternyata didalam ada kakak sepupu yang juga satu lokasi kerja dengan Ibu saya. Selepas sholat saya ditemui oleh kakak sepupu perempuan yang memberikan pengertian kepada saya, juga meminta saya untuk sabar. Beliau juga bilang,
“Insya Allah ini yang terbaik untuk Ibu kamu. Kamu kan udah dewasa, udah ngerti. Dulu anak saya masih kecil sudah ditinggal bapaknya, tidak tahu bapaknya. Ibaratnya kita ini seperti buah kelapa. Ada yang dipetik pas masih muda, sedang atau tua. Allah pasti tidak mau ada hal buruk yang nantinya bakalan terjadi sama Ibu kamu, makanya diambil sekarang”
“Kalau teringat ibu, doakan saja. Bacakan 3x surat Al-Ikhlas, Al-Falaq, An-Naas, Al-Fatihah.”

Iya kak, Insya Allah.

Kemudian saya keluar mushola. Subhanallah, ternyata teras mushola sudah penuh dengan ibu-ibu. Banyak orang dipendopo, pinggir jalan, samping rumah. Subhanallah, Alhamdulillah..

Begitu juga saat masuk rumah lewat pintu samping, didalam rumah sudah penuh orang. Subhanallah.

Mencoba mendekati Bapak saya yang saat itu ada di mushola rumah, ditemani keponakan perempuannya. Kemudian Bapak saya memeluk dan berkata,
“Ibu sudah tidak bersama kita lagi, nak. Yang sabar ya, nak.”
Mata terasa mulai berkaca-kaca, namun saya masih berusaha untuk menahannya.

Sesaat kemudian Bapak saya bertanya,
“Sudah jam berapa ini, kok Ibu masih belum tiba juga. Kasihan Ibu jika tidak segera dimakamkan”

Saya berjalan ke ruang tamu, menemui Ustadz Zakariya, pengasuh pengajian rutin kamis malam di mushola dekat rumah. Ternyata ada juga pak dhe, yang rumahnya juga ber-pendopo. Beliau bertanya, “sudah ambil wudhu belum?”. “Belum, dhe” jawab saya. Kemudian ke kamar mandi dan wudhu.

Beberapa saat setelahnya, terlihat orang-orang berdiri dan melihat kedepan, spontan saja saya langsung kedepan. Ternyata ambulan pengantar jenazah Ibu saya sudah tiba. Dikeluarkanlah peti cokelat dari dalam ambulan, lalu disholatkan di pendopo.

Sekitar kurang lebih jam 11an malam diberangkatkan ke pemakaman dengan ambulan. Didalam, saya bersama Bapak saya dan kakak sepupu yang satu lokasi kerja dengan Ibu, namun bukan yg di mushola tadi. Ada lagi bapak-bapak yang saya lupa namanya, beliau juga rajin dalam acara kirim doa untuk Ibu saya karena kedatangannya yang lebih awal dari undangan lain.

Ibu saya dimakamkan diantara makam kakek dan pak dhe saya.

Esok harinya, ada tamu dari teman kerja Ibu saya. Ada yang bercerita sedikit tentang ibu saya, tentang ajakannya untuk khatam Qur’an di rumah yang menurut beliau dengan percakapannya dengan Ibu saya beberapa hari lalu, baru bisa minggu-minggu ini, dan ibu saya pun mengatakan jika acaranya disaat yang tepat.

Beliau masih bercerita tentang Ibu saya, membuat saya tidak kuasa untuk menahan air mata yang sedari kemarin masih tertahan. Luaplah tangisan yang tak lagi bisa saya bendung. Begitu terasa kehilangan saat itu. Karena saya masih merasa bahwa Ibu saya akan kembali lagi pulang, suatu saat nanti. Sampai detik ini pun saya masih merasa seperti itu, Ibu akan kembali kerumah.
Selamat jalan, Ibu.
Al fatihah…

Catatan:
Ibu saya wafat pada hari Jum’at Kliwon, 28 September 2012. Subhanallah;
Hari Jum’at adalah hari kelahiran Bapak saya
Kliwon adalah pasaran jawa dimana saya, adik dan bapak saya lahir
Tanggal 28 adalah tanggal kelahiran adik saya
Bulan September adalah bulan kelahiran saya

Tulisan ini dibuat di bulan Juli 2013, kemudian mengalami penambahan isi hingga September 2013

Posted from WordPress for BlackBerry.