Awalnya saya mendapat informasi ini melalui pesan broadcast di BBM. Namun masih belum yakin akan kebenarannya. Karena memang kebanyakan broadcast message yang saya terima sangat tidak masuk akal. Misalnya ada korban pembunuhan yang akan menghampiri jika pesannya tidak diteruskan untuk di broadcast. Really annoying.
Oia, langsung saja ini dia broadcast message yang saya terima pagi tadi:

@ Di Tangerang ada ilmuwan pencipta alat pembasmi Kanker payudara dan otak namanya Warsito P. Taruno.

Beliau peneliti Indonesia yg berkarir di Shizuoka University , Jepang. Kantornya di CTECH LABS (Center for Tomography Research Laboratory) Edward Technology yg bergerak di bidang teknologi penemuan di Tangerang.
Warsito telah membuktikan keampuhan alat ciptaannya kpd kakak perempuanya Suwarni yg menderita kanker payudara Stadium IV selama sebulan.
Alat tsb bernama breast cancer electro capacity theraphy, bentuknya dibuat mirip penutup dada yg mengandung aliran listrik statis dibagian dada.
Dipakai selama 24 jam.
Pada Minggu ke-1, terlihat efek samping dari alat itu, namun efek itu tidak sampai menyiksa seperti proses kemoterappi.
Hanya keringat penderita yg menggunakan alat tsb berlendir & sangat bau. Urine & fasessnya (kotoran) pun berbau lebih busuk.
Itu berarti menandakan bahwa sel kankernya tengah dikeluarkan. Bau busuk berasal dari sel kanker yg sudah mati & dikeluarkan melalui keringat,urine & fases tapi sipenderita tidak merasakan sakit, hanya gerah.

Temuan Warsito itu ternyata berhasil. Dalam waktu sebulan setelah pemakaian, hasil test lab menyatakan bahwa kakaknya telah negatif kanker.

Sebulan kemudian kakaknya dinyatakan bersih dari sel kanker. Warsito sdh pernah mengisi acara Kick Andy.

Alamat :
Klinik Riset Kanker EDWAR TECHNOLOGY:
Jl. Jalur Sutera Kav. Spectra 23C No. 10-12 Alam Sutera Tangerang 15235
Telp. 021-29314861 (hunting) Fax. 021-29314880

http://drwarsito.wordpress.com/

Info lengkap silahkan search google “Warsito P. Taruno”

1x broadcast mungkin bisa menyelamatkan nyawa orang/biar mereka yg memerlukan bisa sembuh.🙂 Amin

Cukup meyakinkan isinya. Namun karena masih ragu dan penasaran, akhirnya saya telusuri lagi kebenarannya, yang ternyata informasi tersebut sudah beredar sejak tahun 2011-2012. Berikut hasil yang saya dapatkan dari tempo.co:

TEMPO.CO, Jakarta – Sejak mendapat perhatian luas dari media, bra pembasmi kanker ciptaan Warsito P. Taruno menuai pro dan kontra. Onkolog tak begitu saja percaya bahwa kanker bisa disembuhkan total.

Para onkolog atau dokter ahli kanker berhati-hati menyikapi temuan Warsito yang diklaim bisa menyembuhkan kanker payudara itu. “Temuan itu belum memenuhi persyaratan untuk diujicobakan kepada manusia,” kata Walta Gautama, dokter spesialis kanker Rumah Sakit Dharmais.

Menurut Walta, kutang itu harus menjalani uji klinis dan uji kasus. Setelah itu, dipresentasikan kepada ahli onkologi, pengujian alat medis di laboratorium, tahapan menghantam kanker, hingga uji coba ke makhluk hidup lain, seperti binatang. “Setelah itu, baru layak dicoba ke manusia,” kata dia.

Soal cerita sukses alat itu yang menghilangkan kanker payudara Suwarni, kakak Warsito, Walta meragukannya. “Kami sudah sekian lama di bidang ini saja susah mengkategorikan sembuh dari kanker,” ujarnya.

Menurut Walta, sejauh ini, dunia medis modern belum menemukan terapi terbaik untuk menyembuhkan kanker. “Hampir tidak ada sembuh seratus persen,” kata dia.

Sementara itu, dari sisi radiologi, alat kerja kutang Warsito mendapat apresiasi dan bisa dijelaskan secara ilmiah. “Memang masuk akal dan bisa diterapkan selain di dunia keilmuan saja,” kata ahli radiologi Universitas Gadjah Mada, Gede Bayu Suparta.

Menurut Gede, prinsip listrik yang membangkitkan gelombang elektromagnetik bisa diatur sehingga menghasilkan resonansi frekuensi yang diinginkan. “Yakni sel-sel yang hendak dituju,” kata ahli fisika ini.

Gede yang juga penemu kendali sistem radiografi digital mendukung temuan Warsito. “Gelombang listrik tidak berbahaya, tapi bisa mengubah struktur atom,” kata dia.

Warsito sendiri mengakui, kutang pembunuh kankernya belum diujicobakan ke hewan terlebih dahulu. “Memang seharusnya diuji klinis, dicobakan ke hewan,” kata dia.

Ya, beneran kan. Dokter saja masih tidak percaya, apalagi saya yang awam masalah beginian. Tapi jika dilihat dari penjelasan ahli radiologi, sepertinya cukup logis bahwa alat ini bisa menyembuhkan kanker. Bagaimana cara kerjanya? Berikut yang saya dapatkan dari tempo.co lagi:

TEMPO.CO, Jakarta – Warsito Purwo Taruno menciptakan kutang pembasmi kanker karena terdorong menyembuhkan kakaknya, Suwarni. Seperti inilah kira-kira cara kerja kutang tersebut.

Alat itu hanya membutuhkan daya sebesar 9 volt. Listriknya berasal dari alat yang bisa di-charge ulang dengan perangkat listrik sehingga tidak boros menggunakan baterai kering, yaitu dengan alat yang mengadopsi prinsip dasar EVCT untuk membangkitkan medan listrik.

Kutang itu berupa alat yang mengadopsi prinsip dasar EVCT untuk membangkitkan medan listrik. Keahliannya di bidang tomograpi empat dimensi itu dikawinkan dengan ilmu anatomi tubuh manusia dan pengetahuan soal sel kanker.

Dari situ, Warsito mengetahui bahwa sel makhluk hidup, tak terkecuali manusia, dipengaruhi medan listrik. Medan listrik memberikan pengaruh terkuat kepada sel saat sel berada dalam fase membelah diri. Fase ini adalah upaya sel untuk memperbanyak diri.

Ketika sel kanker yang akan membelah diberi medan listrik dengan takaran tertentu, pada frekuensi 50 kilohertz–5 megahertz, mekanisme pembelahan sel kanker lumpuh. “Inilah yang dilakukan alat itu pada sel kanker payudara,” ujar Warsito.

Akibatnya, sel kanker tak bisa menyelesaikan fase pembelahan. “Lama-kelamaan sel tersebut mati, lalu akhirnya punah karena tak bisa berkembang biak,” ujarnya. Pasalnya, medan listrik statis yang terus-menerus dipancarkan kutang itu membuat sel kanker mati. “Prinsipnya memakai sifat paling dasar dari kanker itu sendiri,” kata Warsito.

Warsito tidak kesulitan menciptakan alat yang mengadopsi prinsip dasar ECVT buatannya. Ia memakai logika dua lempeng logam yang memancarkan katoda dan anoda ke tubuh manusia. Karena punya pemindai yang akurat, ia bisa dengan mudah memutuskan dimana meletakkan katoda dan anoda di payudara.

Posisi yang akurat terhadap posisi tumor penting agar medan listrik melintas tepat di jaringan tumor. “Karena medan listrik hanya mempengaruhi sel yang mengalami pembelahan,” ujar Warsito.

Sangat logis, bukan? Mencegah sel kanker berkembang biak, lalu akhirnya punah. Oia, siapa sih Warsito P. Taruno ini?

TEMPO.CO, Jakarta – Sebagai penemu kutang pembunuh kanker, nama Warsito Purwo Taruno kian melambung. Sebelumnya, pria 44 tahun ini juga menemukan alat pemintai atau tomografi berbasis medan listrik.

Nama Warsito sudah mendunia karena temuan teknologi tomografi medan listrik (electrical capacitance volume tomography, ECVT) empat dimensi (4D). Tomografi adalah teknologi pemindai obyek tanpa harus menyentuh bendanya. “Empat dimensi dimaknai sebagai tiga dimensi ruang (volume) dan satu dimensi waktu, karena obyeknya bergerak,” ujarnya.

Ini merupakan terobosan besar dalam teknik memindai, karena ECVT mampu memindai 3D (volumetrik) dengan obyek bergerak berkecepatan tinggi. Teknologi pemindai semacam CT Scan dan MRI menjadi terlihat kuno. Pasalnya, dua alat itu sekadar menghasilkan citra dua atau tiga dimensi dengan obyek tidak bergerak. Aplikasinya sangat luas, dari reaktor di pabrik, tubuh manusia, obyek berskala nano, hingga perut Bumi.

Warsito mulai membuat pemindai itu ketika ia mengajar di Ohio State University, Amerika, pada 2001, setelah hijrah dari Jepang pada 1999. Pada 2003, di tengah kariernya yang cemerlang di Amerika, satu dari 15 peneliti terkemuka yang menjadi anggota Industrial Research Consortium itu memutuskan menyempurnakan alatnya di Tanah Air.

Ia mendirikan Centre for Tomography Research Laboratory (Ctech Labs) Edwar Technology dan rela pulang-balik Indonesia-Ohio untuk mengajar di universitas tersebut. Di laboratorium yang berdiri di rumah toko Modern Land, Tangerang, Banten, itulah ia berhasil menciptakan ECVT-nya pada 2004.

Pada 2006, ia sudah menerima paten atas temuannya itu dari biro paten Amerika. ECVT-nya telah dibeli berbagai lembaga, termasuk NASA, yang memakainya untuk memindai keretakan dinding pesawat. Untuk Indonesia, ia membuat Sona CT Scanner, yakni pemindai ultrasonik untuk memeriksa dinding tabung gas bertekanan tinggi yang digunakan pengelola bus Transjakarta.

Ayah empat anak ini tidak sombong meski punya reputasi mendunia. “Saya senang bisa menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi sesama,” ujar suami dari Rita Cherunnisa ini.

Warsito juga pernah menolak tiga gelar profesor dari tiga universitas tersohor di berbagai negara. Alasannya, “Saya tidak membutuhkan itu.” Berbagai penghargaan pernah diraih pria kelahiran Karanganyar itu, termasuk menjadi Tokoh TEMPO 2006.

Ia bertekad untuk mengabdikan pengetahuan dan ilmunya untuk dunia riset, bukan mengejar jabatan tertentu. “Siapa pun bisa duduk di jabatan tertentu. Tapi kalau riset, siapa yang mau mengembangkan?” katanya. “Bagi saya, secangkir kopi sudah cukup.”

Wah, ini nih yang namanya padi beneran “makin berisi, makin merunduk”.
Ya, semoga saja alat ini bisa dikembangkan untuk kanker-kanker yang lain. KANtong KERing, misalnya. Hehehe:mrgreen:

Posted from WordPress for BlackBerry.