Harapan tinggallah menjadi harapan. Melihat hasil yang diperoleh saat kemarin malam, Timnas Indonesia yang sebelumnya diharapkan mampu memetik poin dari pertandingan melawan Bahrain. Timnas Indonesia yang diperkuat oleh wajah-wajah baru dan masih muda yang minim pengalaman, dibantai 10 gol tanpa balas oleh Bahrain.

Menurut republika.co.id , hasil tersebut “memecahkan” rekor Indonesia yang tertahan selama 38 tahun (tepatnya dari tahun 1974). Namun bukan pujian yang didapat dalam rekor tersebut. Banyak yang menilai jika hasil tadi malam sangat mengecewakan.

Memang bukan tanpa alasan. Timnas yang selama ini disanjung-sanjung dan dinilai yang terbaik saat ini oleh PSSI harus menerima pil pahit dengan digelontor 10 gol tanpa balas oleh Bahrain dipertandingan terakhir Grup E PPD 2014.

Dengan kekalahan ini, Indonesia yang dilatih oleh Aji Santoso menjadi juru kunci di Grup E dengan nol poin dari enam pertandingan. Yang lebih memilukan lagi, selama turun di PPD 2014 baik kandang maupun kadang, Timnas Garuda hanya mampu menciptakan tiga gol dan 26 gol kemasukan.

Hasil kurang maksimal yang diraih Timnas Garuda sangat dirasakan oleh dua punggawa klub Semen Padang yaitu Ferdinan Sinaga dan Abdul Rahman. Dalam akun twitter-nya (bomber Semen Padang itu menulis “Maaf telah membuat malu Indonesia dalam game tadi..kami hanya berusaha semaksimal yang kami punya..jangan menghujat kami yang sudah berusaha”.

Begitu juga dengan Abdul Rahman. Pemain yang juga dari klub Semen Padang mengakui jika Indonesia kalah kelas dibandingkan dengan Bahrain. Kondisi ini ditambah dengan kepemimpinan wasit yang dinilai banyak menguntungkan tuan rumah karena minimal harus menang 8-0 agar bisa lolos. Namun upaya itu gagal setelah Qatar melawan Iran berakhir imbang.

“Gitulah kalau ‘dizholimi’, yang di atas pasti melihat. Tapi terlepas dari penyebab kekalahan gak usah kita jadikan alasan. Kita harus secepatnya berbenah kalau ingin berbuat lebih baik,” kata Abdul Rahman melalui pesan singkat.

Meski banyak yang kecewa, warga Indonesia tidak boleh langsung menghakimi pemain dan pelatih yang telah berjuang sekuat tenaga dalam membela bangsa dan negara. Pemain dan pelatih hanyalah aktor di lapangan. Yang perlu disorot saat ini adalah peranan pemangku kepentingan sepak bola Indonesia dalm hal ini PSSI.

Faktor lain yang menjadi sebab kekalahan telak tersebut diantaranya adalah materi pemain yang masih tergolong muda dan minim pengalaman, serta berkurangnya pilihan pemain nasional yang bisa dipilih untuk masuk kedalam skuad Timnas Garuda yang merupakan dampak dari kisruh PSSI yang membuat hanya pemain IPL sajalah yang berhak untuk membela Timnas Merah Putih.

Seharusnya hal tersebut tidak perlu terjadi. Semua Warga Negara Indonesia berhak untuk ikut serta berjuang mengharumkan nama Indonesia di ajang Internasional. Siapapun itu.